Jangan Pergi, Jonggi!

6 Feb

:saut poltak tambunan

Illustrasi Koran Kedaulatan Rakyat

Kesejukan masih saja menyelimuti kawasan bukit pekuburan Dolok Nagodang ini, kendati sudah tengah hari. Matahari bernyala sudah tepat di atas ubun-ubun. Binsar berdiri, meluruskan punggungnya  setelah sejak tadi jongkok membersihkan rerumputan dari kuburan bapaknya itu. Pegal juga. Untung ada si Jonggi membantunya.

“Mengasoh dulu, ah ! Rasa mau patah pinggangku !” kata Binsar. Ia melangkah ke arah pohon mangga yang tak jauh dari kuburan itu, tanpa menunggu reaksi Jonggi. Sambil berteduh, ia mengeluarkan sebungkus rokok merk luar negeri dari sakunya dan mulai mengisapnya.

Dari ketinggian sini tampak hamparan danau Toba yang berkabut. Sesekali masih tampak burung elang melayang di atas kampung, mengintai anak-anak ayam yang lengah.  Sekarang elang seperti itu sudah hampir punah. Sama halnya dengan kepunahan berbagai jenis ikan penghuni danau Toba.

Jonggi menyusul berteduh.

“Begitu saja sudah menyerah ? Payah kau ini !  “ tukas Jonggi duduk di samping Binsar. Dengan sigap pula tangannya meraih kotak rokok Binsar dari atas rumput. Menyalakannya sebatang.

“Ya. Aku juga heran. Mungkin karena sudah nggak biasa kerja begini,” Binsar menanggapi sambil  menggeser duduknya ke bagian yang lebih teduh. Pohon mangga ini sudah sangat tua, sudah ada sebelum mereka berdua lahir.  Dahannya banyak meranggas dan daunnya tak  cukup rimbun lagi untuk menaungi kedua anak muda ini.

Lama si Jonggi merenung dan sesekali mencuri pandang ke arah sahabatnya ini.

“Apa rupanya kerja kau di Jogja ?” tanya Jonggi kemudian, menghembuskan asap rokoknya melingkar-llingkar. “Di perusahaan apa ?”

“Bah, itulah salahnya. Kalian pikir yang namanya bekerja di Jawa itu sudah pasti di kantoran. Tidak, Jong, di jalanan pun orang bekerja. Yang penting dapat ini, duit, Jong !” tambah Binsar menggesekkan jemari tangannya.

Sudah sejak kemarin Binsar pulang. Liburan, katanya. Hari ini ia mengajak Jonggi menemaninya ziarah dan membersihkan kuburan bapaknya. Jonggi senang, apalagi Binsar selalu cerita mengenai Jogyakarta yang hebat. Banyak seniman. Banyak hiburan. Banyak makanan enak. Lebih dari itu, banyak pekerjaan. Belum lagi boru Jawa yang manis dan ramah. Tidak seperti gadis-gadis di kampung ini, cantik sedikit saja sudah sombong dan pindah ke kota. Sisanya tinggal yang jelek-jelek. Jemari kakinya pun bermekaran seperti daun singkong karena sehari-hari ke sawah. Nyaris tak pernah bersepatu.

.Binsar dan Jonggi bersahabat sejak di bangku SD. Usai SMU, Binsar dibawa Namboru-nya ke Jogya. Katanya kuliah. Tak jelas entah kuliah di universitas apa. Dalam suratnya tempo hari ia bilang di Jogya itu bukan hanya ada Universitas Gajah Mada. Banyak perguruan tinggi lain yang tak kalah kesohor.  Universitas Lanteung pun ada di sini !

“Tapi … aku tidak mau jadi gelandangan, Sar.  Apalagi jadi pencoleng,“ tukas Jonggi datar.

“Lha, pikirmu hidup di jalanan harus mencopet ? Ha ha ha ! Aku kerja baik-baik. Baru tiga bulan di Jogya, aku sudah keluar dari rumah namboru-ku. Aku butuh cari pengalaman. Nyatanya, aku tidak pernah kelaparan. Selalu saja ada pekerjaan baik-baik yang membuat aku bisa makan,” kata Binsar gusar tetapi berusaha memaklumi kekhawatiran sahabatnya itu.

“Kerja apa ?”

“Untuk sementara ini aku jaga parkir. Malamnya aku kuliah. Lulus kuliah nanti barulah aku cari pekerjaan lain. Tidak terlalu jelek ’kan ?”

“Bah, hebatlah ! Dari pada hidup macam aku, di kampuuuuung terus.”

Matahari sudah bergulir melewati ubun-ubun. Lapar. Binsar mengajak pulang. Kampung mereka hanya berjarak satu kilometer dari bukit pekuburan Dolok Nagodang ini. Naik sepeda motor lewat pematang lebar namun berlumpur-lumpur itu membuat Binsar tidak nyaman. Ia menyuruh Jonggi turun dan berjalan kaki beberapa puluh meter hingga melewati hamparan lumpur itu.

“Hooii, kau-nya itu, Binsar ?” terdengar seorang ibu berteriak dari tengah sawahnya. Nan Sannur rupanya. Perempuan yang tampak jauh lebih tua dari usianya itu menghentikan pekerjaannya marbabo dan minggir ke pematang.

“Iya, Inanguda, bagaimana kabarmu ? Sehat ? Marolop bagaimana kabarnya ?” balas Binsar bertanya sambil menghentikan sepeda motornya, sepeda motor pinjaman.

“Begitulah. Marolop sekarang di Batam. Heh, kau tidak perlu nomor henponku ? Siapa tahu kau perlu menelpon aku,” tambah Nan Sannur pamer. Ia menggegas langkahnya menuju keranjangnya yang diletakkan di pematang. Mengambil telpon genggam dari dalam keranjang. “Nomor berapa henponmu biar aku miskol.”

Binsar mengeluarkan telepon genggamnya. Ikut pamer dan mendiktekan nomornya. Benar saja, Nan Sannur yang dipanggilnya inanguda  itu benar-benar miskol. Sementara Jonggi terdiam.

“Hebat kau, Inanguda, sekarang punya henpon,” kata Binsar membuat bola mata Nan Sannur berbinar bangga.

“Itu – adikmu si Marolop yang kirim dari Batam. Katanya supaya gampang ngomong sama aku. Jadi biar ke sawah aku bawa saja.”

Kembali naik sepeda motor, Jonggi masih membisu di balik punggung Binsar. Oh, henpon ! Ia merasa ketinggalan sangat jauh, bahkan kalah dengan Nan Sannur yang seumur hidupnya bekerja di sawah itu.

*

.

JONGGI  sedih. Jonggi bingung. Jonggi ingin marah. Betapa tidak, sudah dua tahun ia lulus SMU di Balige, empat kilo meter dari desa Tambunan ini. Teman-teman sekolah seangkatannya sudah tak bersisa. Bahkan adik kelas yang baru lulus tahun lalu pun sudah habis. Semuanya pergi.

“Inang, tolonglah mengerti. Aku harus pergi,” kata Jonggi memohon.

Tak ada jawaban. Jonggi menatap berkeliling. Ibu-ibu tua itu  mengelilinginya, duduk di atas tikar. Lampu pijar sepuluh watt tak cukup terang bagi Jonggi untuk dapat membaca apa sebenarnya yang tersirat pada wajah orang-orang tua yang dikasihinya ini.

“Kalian tidak kasihan sama aku,“ ia bergumam.

“Oh, jangan katakan begitu, amang. Jangan, hasian,” selak Nai Batara, ibu tetangga sebelah. Ia duduk paling dekat dengan Jonggi sehingga bisa merangkul bahu anak muda itu dan mengusap-usapnya dengan penuh sayang.  “Kami sangat, sangat mengasihi kau, Jonggi.“

“Jangan pergi, anakku,” ibu Jonggi menambahkan, sendu. “Tak ada turpuk kita di Jawa, hasian.”

Lima ibu tua yang duduk melingkar di atas tikar ini tak setuju dengan niat Jonggi. Anak muda ini tidak habis pikir. Orang lain bisa pergi ke pulau Jawa, setidak-tidaknya ke Medan. Entah untuk sekolah atau bukan. Pendeknya, begitu lulus SMU, berangkat ! Kebanyakan orang tua di sini malah malu kalau anaknya belum pergi seusai SMU. Makin tinggi sekolahnya, makin jauh rantaunya. Itu sebabnya teman-teman Jonggi kini tidak lagi bersisa di kota kecamatan Balige,  terlebih di desa Tambunan ini.

Orang tua dari kampung lain nekad menjual kerbau bahkan menggadaikan sawahnya agar anaknya dapat pergi ke Jawa.  Saudara-saudara sepupunya pun di kampung ini sudah berangkat. Maringan ke Pekanbaru, Ruhut ke Medan, lainnya ke  Bandung, Jakarta dan kota besar lain. Termasuk Sinta yang anak gadis – yang dulu pernah diam-diam ditaksirnya, berangkat ke Surabaya. Mereka diberangkatkan keluarganya dengan sejumput harapan dan sepenuh doa, bahwa nasibnya akan berubah.

“Orang lain boleh. Anak-anak kalian pun boleh pergi. Mengapa aku tidak ?” Jonggi menebarkan kegelisahan dan pemberontakannya pada semua ibu-ibu yang menentangnya ini.  “Mengapa aku harus menerima nasib menjadi penghuni kampung yang sepi dan nyaris tak punya harapan ini ?”

Seorang di antara ibu itu – Nai Mindo menangis tiba-tiba. Paian – salah satu anaknya sejak pergi dari kampung ini lma tahun lalu tak pernah berkabar. Entah hidup atau mati.

“Justru karena itu kami meminta kau jangan pergi, hasian. Kami sudah mabalu, amang. Tinggal kau yang kami punya. Hanya kau yang bisa jadi tempat kami berlindung. Tempat kami mengadu. Sudah tak ada lagi lelaki dewasa di kampung ini. Semua pergi … !” kata Nai Mindo dalam tangisnya, sedih teringat anaknya.

Jonggi membisu lagi. Ada beberapa huta atau kampung bertetangga di sekitar sini. Setiap huta terbentengi oleh rumpun bambu duri yang sangat rapat. Di dalamnya terdapat hanya beberapa rumah warisan turun temurun, berjajar dua-dua berhadapan. Penghuninya masih bersaudara dekat, semarga. Rumah-rumah berbentuk sopo itu sudah tua, kusam  dan lapuk tidak terawat. Ada yang atapnya sudah diganti seng, sebagian masih bertahan dengan ijuk. Tetapi beberapa di antara rumah beratap ijuk itu malah sudah rubuh tak berpenghuni.

Kampung si Jonggi masih mendingan. Dari sepuluh rumah yang terdiri dari lima pasang berhadapan, masih ada lima rumah yang berpenghuni. Kendati seluruh penghuninya tak sampai lima belas orang. Beberapa huta tetangga sudah benar-benar kosong tak berpenghuni. Ketika orang-orang tua mereka meninggal, anak-anaknya cari penghidupan ke kota. Sawahnya pun disewakan saja ke orang, atau malah dibiarkan tarulang.

Dari lima rumah berpenghuni itu, rumah si Jonggi yang paling gelap jika malam. Penerangan lampu pijar di sini sangat minim, itu pun ditarik dari tetangga karena aliran listrik ke rumah itu sudah diputus PLN. Tidak bayar tagihan.  Sejak dua bulan lalu Nai Batara  membeli tivi. Jonggi yang pasang antenanya dengan bambu yang nyaris setinggi pohon kelapa.

“Apa yang harus kami lakukan supaya kau tidak pergi ?” Nai Batara menambahkan lagi. “Kau tahu, hasian, televisi di rumahku itu aku beli dengan utang. Maksudku supaya kau dan anak-anak sahuta ini betah tinggal di sini. Tidak pergi ke kota.”

“Oh, beginilah akibatnya ketemu si Binsar lapa-lapa itu,” Nai Mindo mengeluh.

“Bah, tak ada hubungannya dengan Binsar. Aku sudah lama merencanakan pergi ke Jawa.”

Lima ibu-ibu tua sekampung yang sudah lama menjanda itu tetap membujuk Jonggi jangan pergi. Ada yang menawarkan sawahnya untuk digarap dengan bagi hasil satu banding satu. Ada yang menawarkan anak kerbaunya untuk juga dipelihara Jonggi dengan bagi hasil. Ada yang janji mencarikan pinjaman untuk membeli sepeda motor bekas. Bahkan ada yang berjanji akan mencoba mendekati anak gadis kampung lain untuk menjadi isterinya.

“Kau kawin sajalah. Supaya ada ama di kampung ini,” kata Nai Mindo lagi.

Makin bingung si Jonggi. Ia menyayangi semua ibu sekampung ini bagai ibu kandungnya sendiri. Ia juga mengerti kampung ini sangat memerlukannya. Bukan karena perlu untuk melakukan pekerjaan laki-laki seperti mencangkul, membetulkan atap bocor, menebang rumpun bambu duri yang semakin turun menutupi jalan, mewakili rapat desa untuk pengaturan air di sawah dan lain-lain. Semua itu masih bisa digantikan oleh tenaga upahan. Tetapi untuk urusan adat, posisi Jonggi sebagai satu-satunya lelaki terakhir tak bisa digantikan oleh orang lain. Itu juga sebabnya mereka ingin lekas-lekas menikahkan Jonggi agar punya status ama, punya hak bicara dalam adat. Apa jadinya adat tanpa kehadiran ama sebagai pemimpin ?

Tanpa laki-laki, jambar atau hak adat mereka akan selalu dipecundangi. Begitu pula soal pembagian air di sawah dan lain-lain.

“Suruh saja si Minar kawin, suaminya suruh tinggal di sini,” kata Jonggi kepada Nai Batara, sekenanya saja. Ia tahu itu tak mungkin.

“Bah, Si Minar itu baru kelas satu SMP, Jonggi,” Nai Batara tertawa.

“Lagi pula kedudukanmu dengan hela tidak sama di kampung ini. Hela itu marga lain, tidak bisa jadi ama untuk memimpin kami dalam urusan adat,” tambah Nai Mindo.  “Sudahlah, amang, kasihani kami. Jangan pergi. Jangan tinggalkan kami.”

*

Cericit burung sipigo terdengar mencuat di antara kucica burung lainnya di kebun belakang rumah. Burung langka, entah dari mana pula burung itu tiba-tiba muncul di situ. Hari masih remang pagi. Tetangga belum ada yang bangun.

Jonggi memeluk dan mencium ibunya. Coba mengucapkan sesuatu, tetapi ibu tua itu menutup mulut Jonggi dengan jemarinya yang kasar,  jemari petani. Ia menyuruh Jonggi diam.

“Pergilah, hasian, jangan katakan apa pun pada Inang. Aku memang bilang,  jangan pergi. Tetapi sungguh aku tak ingin menggenggammu di tanganku yang lemah ini. Tuhan akan memimpinmu, hasian. Jangan lupa berdoa.”

Jonggi terisak.

“Jangan menangis. Kau harus kuat. Lihat, Inang pun tidak menangis. Pergilah sebelum tetangga mencegahmu berangkat. Doaku besertamu. Surati Inang nanti jika kau sudah sampai …..!”

Jonggi berjuang menahan tangisnya. Ia berbalik pergi, menenteng ransel tuanya menerobos jalan pintas di belakang rumah. Berlari ke jalan utama kampung sambil membiarkan tangis menghempas-hempas di dadanya. Di perempatan jalan, Binsar sudah menunggu. Sahabatnya itu akan membawanya pergi ke negeri mimpi : Jogjakarta  !

***

Jogjakarta, 14 Juni 2005

Ama ; status lelaki yang sudah menikah. Dalam adat Batak hanya lelaki menikah yang punya hak bicara dalam adat.

Amang; ayah, dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada anak.

Boru Jawa;  gadis Jawa

Jambar : hak/penghargaan dalam adat

Hasian;  kesayangan

Hela; menantu

Huta, sahuta;  kampung, sekampung

Inanguda;  adik perempuan dari inang (ibu)

Lapa-lapa;  keparat

Lanteung;  tanaman yang buahnya bagus, jingga sebesar bola pimpong, tetapi tidak berguna sama sekali. Ternak pun tidak mau memakannya. Orang Batak menyamakan Lanteung pada sesuatu yang tidak bermanfaat.

Mabalu;  menjanda

Marbabo;  membersihkan tanaman liar dari antara batang tanaman padi

Namboru;  bibi, saudara perempuan ayah

Nan Sannur (sama dengan Nai Batara): ibu si Sannur, ibu si Batara

Sipigo;  sejenis burung yang cantik tetapi sudah langka

Turpuk;  bahagian hidup yang menjadi takdir

Tarulang : sawah atau ladang yang kembali menjadi semak belukar karena tidak terurus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: