Sae Dodak!

6 Feb

Bah, nunga sae dodak!

AKU baru saja menutup pintu kilang ketika si Pesong muncul bergegas dari seberang jalan. Bahunya bongkok miring ke kanan. Langkahnya menyeret kaki kiri yang cacat. Mulutnya terbuka sehingga giginya yang hitam menonjol itu selalu tampak kendati dia tidak tertawa.

Ah, orang tua ini lagi. Pasti dia akan mengajak aku mengobrol ngalor – ngidul seperti biasanya, padahal aku sudah lelah. Ingin lekas istirahat setelah sepanjang siang tadi terpasung melayani panduda atau pelanggan jasa kilang penggilingan padi ini.

Si Pesong, mungkin tujuhpuluh tahun umurnya. Tak ada yang tahu nama sebenarnya. Kampungnya entah di mana dan keluarga siapa. Ia tak punya pekerjaan, apalagi rumah. Malas mandi dan bajunya tidak pernah ganti, hingga baunya tercium ke sekitarnya. Dia suka tertawa dan menggerutu sendirian. Karena itu orang bilang dia pesong. Gila.

“Ah, sae dodak!” katanya putus asa sesampainya di depanku sambil menyodorkan sehelai koran lusuh bekas pembungkus. Wajahnya yang ‘semrawut’ tampak lucu.

“Apa lagi?” tanyaku tak bergairah, sambil mengibaskan dedak dari rambutku. Tapi seperti biasanya, aku tidak tega menunjukkan keenggananku. Sebab aku tahu hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara.

Orang tua ini segera nyerocos mengenai situasi politik. Jakarta ramai lagi. Mahasiswa dan polisi saling seruduk di Gedung DPR tapi masyarakat juga yang korban. Pendemo makin berani melawan polisi.

“Ini gara-gara hukum yang tak beres-beres. Endonesa gawat! Benar-benar gawat. Sae dodak!” katanya.  Bicaranya yang cepat dan air liurnya yang membuncah di sela giginya yang besar-besar membuatnya susah menyebut Indonesia.

“I n d o n e s i a,” kataku membetulkan.

Ia seakan tak mendengarnya. Ia teruskan mengoceh. Rampok merajalela lagi. Supir taksi dibunuh. Nasabah bank ditembak. Anak sekolah berkelahi tiap hari hingga ada yang mati. Pabrik narkoba digrebek. Penggusuran, kebakaran, pemerkosaan.

“Bah, bah, bah! Amang ooooi, Amang!” si Pesong  mengeluh  panjang. “Aduuuuuuhhh, Bapak.”

“Jakarta memang begitu. Mau apa?” sahutku dingin membuatnya terdiam. Kutunjukkan pula tanggal koran itu. “Lihat. Ini Koran lama. Beritanya sudah basi.”

“Ya, maksudku, ini ‘kan sudah mau pemilu …!”

“Bah, Pemilu bagaimana? Sudah lewat, hooii! Tapi sudahlah, mau diapakan Pemilu? Kau, keponakanmu – isteriku, para panduda, perduli apa mereka dengan kita? Kenapa pula kita harus mikirin mereka?

Orang tua ini mengerutkan dahinya yang kotor, tampak kecewa dengan sikapku yang dingin. Kecewa berat. Tiba-tiba aku menyesal sendiri. Aku sebenarnya tidak bermaksud melecehkannya. Aku hanya sedang malas bicara.

“Ada berita apa di sini?” tanyaku kemudian coba menghiburnya sambil membuka koran lusuh itu.

“Tidak ada apa-apa,” balasnya lesu sambil mengambil koran itu dari tanganku. Ia jengkel padaku.

“Begitulah hidup di kota besar,” kataku akhirnya, coba menetralisir emosinya. “Masyarakatnya individualis, materialis dan konsumtif. Tempo hari kau bilang politik itu kotor, makanya kau tak mau ikut-ikutan. Sekarang kau banyak protes. Sebaiknya kau terjun saja ke politik biar bisa membereskan itu semua.”

“Aku? Si Pesong gila terjun ke politik? Ha ha ha !” Si Pesong tertawa ngakak, mulai bergairah. Aku tahu ia paling suka dipuji.

“Ooo, si Pesong rupanya. Sudah makan kau, Tulang?” isteriku menyapa sambil melongokkan kepalanya dari jendela. Si Pesong menggeleng, ia masih ingin mengobrol.

“Tapi … ah, sae dodak,” kata orang tua itu lagi seakan putus asa. “Benar-benar sae dodak. Polisi sudah kewalahan. Orang-orang di Jakarta pun sudah masa bodoh. Egois. Tidak mau saling tolong.”

Kukeluarkan rokok dari sakuku. Masih ada tiga batang dalam bungkusnya. Kuberikan semua dan matanya kontan berbinar. Dia ambil satu dan dinyalakan. Sisanya dimasukkan ke buntalan kainnya.

“Ck, ck, ck!” aku mendecakkan lidahku, berlagak serius. “Semua mata anak bangsa ini menatap ke ibukota Jakarta. Lewat Koran dan tv tiap hari kita saksikan Jakarta babak belur dengan luka-lukanya yang borok bernanah. Akan ke mana masa depan negara kita ini?

“Jakarta sudah sakit berat,” jawab si Pesong sekenanya. Mulai asyik sendiri menikmati rokok di tangannya.

Beberapa anak kecil pulang dari memancing ikan di danau melintas di depan kilang. Mereka berteriak mengejek si Pesong.

“Hoi, Pesong, Amerika payah! PSMS keoook! PSMS banci!”

“Mana bisa!?” balas si Pesong berteriak. “Biar gunung runtuh, PSMS tetap ..!”

“Tetap gila! Si Pesong tetap gila! Gila! Gila!”

“Bapakmu yang gila! Suruh bapakmu ke sini! Aku nggak takut!” balas si Pesong. Ia membuat lingkaran di tanah dengan jempol kakinya. Lalu menginjak-injaknya dengan gemas. “Ini bapakmu! Ini ompungmu! Nih! Nih!”

“Pesong sinting! Pesong PKI!”

Si Pesong memungut batu lalu melempar anak-anak itu. Tetapi tangannya yang kurus itu terlalu lemah. Lemparannya tak sampai hingga  anak-anak itu semakin berani mengejeknya. Sebagian berjoget mengejek. Sebagian lagi menirukan gerak tubuh si Pesong yang cacat dengan langkah terseret-seret.

“Heh, sana! Pulang semua!” aku ikut marah sambil berlagak akan memungut batu. Anak-anak itu lari tunggang langgang. Sampai jauh teriakan mereka mengejek si Pesong masih terdengar.

“Sudah, kau pergi dulu. Besok saja kita mengobrol. Aku capek. Hari ini aku banyak kerja.”

Si Pesong kecewa. Wajahnya kecut. Dari mulutnya yang tenganga air liur tampak menggantung lalu menetes ke bajunya. Ia masih ingin mengobrol, sangat ingin.

“Pergilah,” kataku lagi, menyodorkan dua keping uang logam limaratusan.

Ia menatap mataku sejenak. Sendu. Diambilnya uang itu dari tanganku lalu berbalik pergi. Jelas ia tak puas dengan sikapku, tapi aku mau apa? Aku capek. Aku mau mandi, makan, lalu tidur.

Isteriku muncul pula dengan sebungkus nasi dan sekerat ikan arsik mujahir. Si Pesong menerima bungkusan itu sambil bergumam:

“Suamimu ini sakit. Ia perlu berobat!”

Isteriku tertawa. Si Pesong selalu berkata begitu kalau jengkel padaku.

Si Pesong pergi, terseok-seok menjauh. Aku masuk ke rumah. Memang, tak biasanya aku begitu dingin padanya. Tapi tak mengapa. Besok ia akan datang lagi.

Almarhum kakekku adalah orang pertama yang membuka usaha kilang padi di daerah sini. Pelanggan atau panduda datang sendiri membawa padinya untuk digiling menjadi beras. Juga datang dari kota-kota kecil lain. Juga dari pulau Samosir, naik kapal kayu menyeberangi  Danau Toba. Dulu, tentara Jepang pun membawa padinya kemari.

Kilang padi ini terletak tak jauh dari pinggir danau toba. Di bagian  muka bangunan tua ini masih tertera nama usaha: Toek-tak Mandoeda eme!

Masih dalam ejaan lama. Manduda eme artinya menggiling padi. Panduda berarti pemilik padi yang akan digiling. Sedang tuk-tak sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Hanya menirukan bunyi mesin huller tua itu. Tetapi karena usaha kakekku ini begitu terkenal, nama tuktak jadi monumental. Anak cucunya pun selalu dikenal dengan identitas keluarga tuktak.

Dalam proses kerja menggiling padi, padi dituang dari karungnya lewat corong besar yang ada di lantai atas putaran penggiling.  Sekarung demi sekarung. Beras akan keluar dari corong kecil di bagian muka dan dedaknya mengucur di bagian belakang. Dedaknya diambil untuk makanan ternak.

Ketika padi panduda pertama sudah habis tergiling, putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Padi putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Karena itu padi panduda harus segera dituang dan  petugas dari atas akan berteriak memberi aba-aba: Saaee dodaaaak!!

Secara harfiah sae dodak berarti ‘selesai dedak’. Teriakan pekerja itu adalah pemberitahuan bahwa beras dan dedak berikut adalah milik panduda lainnya. Karung penampung beras harus segera ditukar dengan milik panduda lain. Harus diteriakkan keras-keras, agar terdengar ke dalam ruang dedak di bagian belakang yang bising dengan suara mesin.

Dari kilang padi ini jargon sae dodak merebak ke mana-mana. Sae dodak menjadi ungkapan rasa tak puas, putus asa dan kecewa. Anak tak lulus sekolah atau tak naik kelas, orang tuanya bilang sae dodak. Padi di sawah dimakan hama, ah, sae dodak. Begitu pula dengan kekeliruan meletakkan buah catur di lapo tuak: Sae dodak!

Si Pesong tahu betul jargon itu. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar aku drop out dari kuliahku dan berkali-kali ditangkap polisi karena ikut unjuk rasa di Jakarta. Ketika kuputuskan meninggalkan Jakarta dan pulang kampung untuk mengurusi warisan kilang padi ini, ia mengejek aku dengan jargon sae dodak itu. Ketika Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani mulai disebut-sebut orang dalam kasus Bank Century,  jauh-jauh hari dia sudah bilang sae dodak.

Si Pesong tak jelas datang dari mana. Sejak belasan tahun lalu orang tua ini sudah berkeliaran di sekitar sini. Semasa nenekku masih hidup, si Pesong ini sering diberi makan. Ketika itu dia tampak sudah setua sekarang ini.  Setelah itu menghilang dan baru muncul lagi bebertapa tahun belakangan ini. Kabarnya ia ditangkap keluarganya untuk diobati. Sempat sembuh, lalu kumat lagi.

Kadang aku memberinya pekerjaan sekedar menjaga padi di pelataran jemur agar tak dimakan ayam atau biri-biri milik orang Bengggali yang tinggal  di belakang rumah. Tapi dia malas bekerja. Selalu cari alasan. Ia lebih suka nongkrong sepanjang hari di muka kedai si Rapolo. Menguping debat-kusir orang-orang  di sana. Mulai dari olah raga, politik dalam dan luar negeri, ekonomi, militer, teroris dan segala macam. Silang pendapat dalam debat itu direkamnya dalam benaknya lalu disoalkannya padaku.

Satu-dua kali seminggu ia pasti datang padaku dengan macam-macam issue. Kulayani saja dia bersoal-soal. Bagiku itu menghibur. Membuatku lupa akan penat seharian mengurusi kilang padi.

Aku tahu semua yang disoalkannya itu bukanlah pendapatnya. Cuma menguping pendapat orang lain. Tapi aku suka. Aku senang. Memang aku dan si Pesong terjebak dalam pertemanan yang aneh. Aku selalu sibuk mengurusi usaha kilang padi warisan ini, karena itu tak punya waktu untuk duduk berleha-leha dan berdebat di lapo. Sedang si Pesong juga senang padaku, karena hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara. Tambah lagi aku selalu memberinya rokok dan isteriku memberinya makanan.

Ia suka koran. Ia bisa membaca koran bekas sampai berjam-jam. Isi koran yang dianggapnya tak beres, selalu dikomentarinya dengan: Sae dodak! Kadang aku sengaja memancing emosinya dengan cara  menempatkan pendapatku berseberangan dengannya. Lalu kami berdebat sampai ia jengkel lalu berkata: Bah, sudah sae dodak, kau sudah ikut sakit!

Masih sering ia mengeluhkan peristiwa  mahasiwa Trisakti yang mati tertembak di kampusnya. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar jumlah korban mati dalam bencana gempa di Sumatera Barat.

“Kenapa bukan aku saja yang mati, ya?” katanya sekali waktu. “Orang gila mati tidak ada yang sedih. Semua orang senang. Tapi … sebenarnya mana lebih bahaya, aku yang orang bilang gila atau mereka yang gila-gilaan itu?”

Kadang ada saja omongannya yang menghisap aku pada pusaran  perenungan yang dalam. Banyak yang tak sengaja kupelajari dari dia.  Kalau saja tidak gila, ia pasti pintar. Sekarang ke-tidakberdayaan-nya membuat semua orang merasa berhak mengejeknya.

Berminggu minggu kemudian ia tak muncul. Aku tidak ambil pusing. Itu biasa. Lagi pula aku sibuk belakangan ini.  Si Hercules, anak abangku mau kawin. Aku kebagian tugas mengurusi macam-macam keperluan pestanya nanti.

Suatu hari, sudah hampir tengah malam aku tiba di rumah. Kepalaku pening. Rasa kesal, marah dan sejuta rasa tak enak lainnya menyatu menggerogoti perasaanku. Bapak si Hisar dari kampung sebelah, kemarin sudah setuju menjual kerbaunya untuk keperluan pesta itu. Hari ini mendadak ia batalkan dengan alasan yang tak masuk di akalku. Padahal hari pesta tinggal empat hari lagi. Cari babi yang besar pun sudah sekarang ini. Penyakit babi mengganas membuat ternak babi punah di mana-mana.

Pulang dari rumah bapak si Hisar, aku dapati si Pesong terbaring melingkar di muka pintu gerbang. Ini tidak biasa. Takut jadi kebiasaan nanti, maka aku usir dia.

“Aku ….. !” desah si Pesong coba menjelaskan.

“Pergi kau!” bentakku. “Diberi hati minta jantung kamu! Diberi makan minum eee malah tidur di sini …!”

Si Pesong terbatuk-batuk. Tubuhnya yang kurus itu terguncang-guncang. Sambil menatapku sendu, ia memenahi tikas lusuh dan buntalan kainnya yang kotor. Mulutnya terkunci. Tanpa bicara sepatah pun, ia tertatih-tatih menyeret langkahnya. Pergi. Menghilang di kegelapan malam.

“Tampaknya dia sakit,” kata isteriku.

“Sakit apa? Orang gila tidak pernah sakit. Dari puluhan lalu ia sudah begitu, tapi mana mau dia mati?” kataku ketus sambil menutupkan pintu. “Orang gila sudah matinya, tahu?”

Besok paginya, seperti biasa aku membuka pintu jendela kilang. Si sordang, anak kampung yang bekerja harian di kilang padi ini datang sudah hampir jam delapan. Dan, ia membuatku  terkejut setengah mati.

“Ramai sekali orang di pantai situ,” katanya. “Si Pesong mati. Ditemukan sudah kaku di dalam gorong-gorong besar itu.”

Ya, Tuhan! Sejuta petir pun tak akan membuatku sekaget ini. Di pantai danau situ memang berjajar gorong-gorong baru berdiameter satu meter yang akan dipasang menggantikan parit lama. Hanya dua ratus meter dari rumah ini.

“Kau sudah tengok? Benar-benar si Pesong?”

“Kata orang sih si Pesong.”

“Bah, mestinya kau tengok dulu!”

“Bah, untuk apa pula orang gila mati ditengok?’ balas si Sordang tertawa.

Aku bingung. Kulihat isteriku bergegas pulang dari tepi danau. Tangannya kosong, tak jadi beli ikan.

“Paaakk ….!” Suaranya tersedak. Air matanya mengambang.

Aku tak menunggunya selesai bicara. Aku berlari sekencangnya menuju pantai. Tapi orang-orang sudah bubar. Tubuh pipih yang sudah membeku itu telah diangkut petugas ke rumah sakit. Aku termangu. Ingin menjerit sekeras-kerasnya memanggil namanya.

Si Pesong telah pergi. Ini pertama kali aku sadar bahwa dialah satu-satunya sahabatku. Padahal tadi malam ia ke rumahku. Padahal mungkin hanya untuk minta minum, makan, obat atau apalah. Padahal mungkin hanya mau pamit. Padahal …!

Aku bersandar lemah di sisi gorong-gorong. Kutelan ludahku. Pahit. Ah, benar-benar sae dodak!

***

5 Responses to “Sae Dodak!”

  1. Risca Tambunan February 11, 2011 at 6:14 pm #

    Air mata menetes membaca cerpen ini, penyesalan memang selalu datang terlambat.

    • Nurkia Tambunan September 1, 2011 at 11:40 pm #

      Rabu minggu yang lalu 24 Agustus 2011 saya datang ke tuktak mandoeda eme yang di ceritakan diatas, sewaktu kecil saya ingat disamping pabrik ada kandang bebek ayam dan burung merpati banyak sekali.setiap pagi kami berburu telor bebek..Yang jelas Itu tinggal kenangan saja. seperti nya saya kehilangan apa yang pernah kumiliki waktu kecil. Mesin huller dengan roda2 besarnya, bak air pendingin mesin dengan sumur ditengahnya.Ruang makan dengan sarapan pagi ketan.bersama ompung tercinta.Tapi keadaan itu jauh sudah berbeda setelah hampir 58 tahun yang lalu. kita masuk aja sudah ngak bisa karena pabrik tersebut sudah diwariskan kepada sepupu kami. ironis ya.

      • Saut Poltak Tambunan October 19, 2011 at 12:20 pm #

        Horas, Itoku. Vita brevis, ‘kenangan’ longa. Hidup bisa singkat, tetapi kenangan abadi.

    • Saut Poltak Tambunan October 19, 2011 at 12:23 pm #

      Sebagian masa lalu saya ada dalam cerita itu.

  2. agungbsantoso April 4, 2012 at 4:20 pm #

    bagus sekali cerita nya, terimakasih sudah diperkenankan membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: