Kotaku Kecil di Tepi Danau Itu

7 Feb

Setiap Jumat, dulu sekali

Riuh pasar dan pelabuhan Danau Toba

gegas kejar sisa hari pekan

ular besar masih melingkar di kaki lima tukang obat jual ‘koyok’

film India berjam-jam siang di dua bioskop berkepinding

gambar buram sering putus menuai caci maki

menjelang sore orang pulau Samosir panik ketinggalan kapal

berteriak sebisanya lambaikan  sarung atau jaket

minta putar kembali kapal terlanjur di tengah danau

“Allang ma gadong i…!” penumpang kapal sarat memaki

Siang berdebu, Jumat hari ini

Tak kulihat lagi kapal sarat

sayur pisang mangga dan orang-orang ‘pekan’ entah di mana

Tak kulihat lagi  pedati

kerbau setia mundar-mandir

ke penggilingan padi

‘toek-tak’ tinggalan  kakekku,

yang sejak zaman Jepang memaknai denyut kota ini

mesin kini bisu,  berdentam-dendam hanya dalam kepalaku

Di mana elang berputar menyambar anak ayam di  jemuran  padi?

Di mana cericit burung gereja dan burung layang berkejaran di pohon meranggas seberang jalan?

Tak kudengar lagi

gerumam cumbu merpati

dari kotak sabun yang dipaku di samping gudang beras

Lenyap sudah gelak tawa kecipak anak-anak berenang

yang mengusik riak bening  danauku

mengirim riak ombak kecil ke betis gadis mencuci baju di tepian

Di mana kalian kubu

rkan nenek tua yang  mangga  dagangannya di kapal kami curi hampir  setiap hari pekan itu?

Sirsak ‘tarutung’ yang ada sebelum kakekku ada

masihkah menjulurkan buah kerdilnya di dahan berlumut  tak berdaun itu?

Hari ini,   sudah 2964 jumat aku ada

ringkik tuter angkot  becak motor keparat menjarah sunyi kotaku

debu jalanan menyerbu setiap celah di rumah bapakku

yang tak juga berubah bentuk sejak puluhan tahun lalu

dan di atap seng berkarat masih kulihat bolong bekas paku kakek buyutku

masih tegak sejak awal abad lalu

membisu enam balairung

pasrah  gorganya pudar lapuk

di bawahnya pasar kian sumuk

tenda kumal sumbel-sungsang pedagang musiman

Di mana  si Nelson si Hisar si Marudut si Jornal dan si lainnya yang  bersepak bola di balairung tengah itu? Di mana adik-adik si Tigor si Nurdin si Tonggo si Martua dan si lainnya yang sekotor kerbau berseluncur tanah liat di tanggul sungai Aek Alian seberang sawah itu?

Hari ini, 2964 jumat aku ada

Sia-sia menggantang remaja ceria ‘marhobas’ di perhelatan

berganti hadir entah siapa yang kemudian dibayar berlembar-lembar

Kekasih-kekasihku mati, yang hidup pun kau renggut dariku

Cengkrama anak sekolah ramai jalan kaki ke perbukitan Soposurung

berubah riuh lalang angkot ojek bahkan becak motor

yang oleh ruh leluhurku  pasti akan dilempari tahi kerbau andai bisa

Usah tanyakan  ke mana sado yang pernah melindas aku semasa balita

dan bapakku meninju  hidung saisnya hingga berdarah itu

Hari ini,   2964 jumat aku ada

Ilalang hijau padi masih melambaikan dirinya padaku

aku memang ingin berkayuh pulang

rinduku kepada satu dua porsi mi gomak dan mout di pintu ‘onan’ pasar

serindu anak anjing ngungun menunggu tuannya

sepiku pun sepikun bulan kehilangan malam

Semua berubah, harus

pepohonan kecil tentu kini tua dan meranggas,

anak menjadi ayah  bahkan kakek

kakek berangkat tiada

balita berbahasa Melayu dengan nama

yang dahulu hanya kutemukan dalam film-film cowboy

Seberapa ada teman lama  kukenali tiba-tiba dalam rentanya

persis muda belia yang di-make up karakter dalam sinetron picisan,

aku tertawa

dan kami saling mengejek  sisa rambut dan gigi yang masih kami punya

Hari ini,   2964 jumat aku ada

berenang atau tak gatal-gatal!?

kusampak saja kailku ke danau hingga nyaring cemplungnya

walau aku  tahu ikannya telah punah ditelan cemar pabrikmu

tak hatrus aku perduli,  sebab aku memancing dalam kepalaku sendiri

aku juga akan tetap menyepak bola di lapangan Singamangaraja di tepi danau walau tak kulihat sesiapa di situ kecuali gegunungan gundul

sebab dalam kepalaku masih kudengar sorak

setiap kali kupecundangi gawang seberang

Hari ini,   2964 jumat aku ada

Ompungku, bapakku, emakku, saudaraku

tak bisa bicara lagi dari kuburnya di Dolok Nagodang

tak hendak kota ini  berdandan meski camat sudah jadi bupati

salahkan siapa?

Bukankah kau pun labu yang ditanam di sini

namun mekar berbuah di pekarangan seberang? Seperti aku hingga lebih dari tiga perempat usiaku?

Bah, malu aku temukan catatan di halaman pertama catatan dustaku :

O, Tano Batak, Haholonganku! Aku mencintaimu!

(- alai dung hudapothon dompak ho

rohangku laho do tu na dao

taripar tu bariba tao, tu ujung ni portibion)

Hari ini,   2964 jumat aku ada

tak ada lagi ‘balige’ yang bisa kau ambil dari aku

sebab semua dan segala sudah kukemas

dan ku-copy file utuh dalam kenanganku

Tuhan menjagamu, kota kecilku

Glogal Image-ku, Balige-ku di tepi Danau Toba

Jakarta, Jumat ke-2964,  28 agustus 2009

Saut Poltak Tambunan

3 Responses to “Kotaku Kecil di Tepi Danau Itu”

  1. gurusatap May 24, 2011 at 8:00 pm #

    Mantabs Opung….

    ini kunjungan pertamax..

  2. wongkamfung October 3, 2011 at 11:16 pm #

    Jadi enteng dibaca, kisah perjalanan hidup dikemas dalam puisi semacam ini.

    Salam kenal pak Saut (sudah tepatkah memanggil seperti itu?). Seandainya 1 Okt 2011 kemarin saya tidak ada acara, saya pasti telah datang bersama teman-teman dari Rumah Kata Bogor memenuhi undangan di Semplak dan ketemu dengan pak Saut.😉

    • Saut Poltak Tambunan October 19, 2011 at 12:21 pm #

      Pak Saut? Boleh juga. Tetapi teman-teman lebih suka menyebut Bang Saut. Tks atas apresiasimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: